Breaking News
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Artikel » Menggali Jejak Kerukunan dan Toleransi di Klaten Abad VIII – X Masa Mataram Kuno

Menggali Jejak Kerukunan dan Toleransi di Klaten Abad VIII – X Masa Mataram Kuno

  • account_circle fkubklaten
  • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
  • visibility 29
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Menggali Jejak Kerukunan dan Toleransi di Klaten Abad VIII – X Masa Mataram Kuno*

KLATEN — Kabupaten Klaten menjadi salah satu “jantung” peradaban Mataram Kuno sejak dulu kala. Di sinilah jejak toleransi Hindu- Buddha sudah terlihat jelas dengan jejak-jejak peninggalannya.

Ir.Wisnu Hendrata, MMR salah satu pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten menulis dalam bujunya Jejak Kerukunsn dan Toleransi di Klaten dari Jaman Mataram Kuno Avad VIII – X yang dibedah pada Rabu ( 5/8/2026 ) di Pendopo Pemerintah Kabupaten Klaten.

Acara tersebut dibuka bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo yang diwakili Staf Ahli Bupati Klaten Slamet , SH, M, Si.

Nara sumber lain yang membahas buku tersebut adalah Dr.Daud Aris Tanudirja, Dr.Ir. Cornelius D.Ronowidjojo, Ph.D. M.A dan Prof. Dr. Timbul Haryono, M,Sc

Menurut Daud Aris Tanudirja wilayah Klaten-Prambanan disebut “Siwa Plateau” karena di satu kawasan ada candi Hindu dan Buddha yang berdiri berdampingan.

“Candi Plaosan di Desa Bugisan Prambanan Klaten yang dibangun oleh Rakai Pikatan raja Hindu dari Dinasti Sanjaya sebagai hadiah untuk istrinya yakni Pramodhawardhani yang beragama Buddha” katanya.

Jadi antara suami dan istri berbeda agama, tapi saling mendukung membangun tempat ibadah untuk pasangannya terjadi pada saat itu.

Sedangkan Candi Sojiwan Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten yang merupakan Candi Buddha abad ke-9 M dibangun Raja Balitung dari Dinasti Mataram Kuno untuk menghormati neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beragama Buddha.

“Meski coraknya Buddha, di beberapa bagian ada kecenderungan nercorak Hindu. Ini jadi simbol “harmonisasi”.” katanya.

Dijelaskan bahwa keberadaan candi Hindu dan Buddha di satu kawasan menunjukkan nenek moyang sejak dulu telah hidup rukun, harmonis dan sangat toleran.

“Tahun 840 M terjadi pernikahan Pramodhawardhani dari Dinasti Sailendra beragama Buddha dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Sekalipun berbeda agama ternyata bisa hidup rukun, damai dan harmonis.” kata Daud Aris Tanudirja.

Dampaknya besar dari peristiwa tersebut adalah kerukunan antar umat beragama menjadi kebijakan negara, Rakai Pikatan tidak menyingkirkan agama Buddha. Justru mendukung pembangunan candi Buddha, sedang
Pramodhawardhani juga mendukung pembangunan candi Hindu, sehingga masa pemerintahan mereka 840-856 M melahirkan banyak candi megah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ).

“Ini bukti kalau di Mataram Kuno “raja dengan rakyat tidak harus beragama sama” dan sudah menjadi hal yang biasa.” pungkasnya.

Dukuh Kropakan, Desa Mranggen, Jatinom, Klaten diperkirakan perkampungan sejak abad 8-10 M. Ditemukan guci, gerabah, manik-manik, batu bata, dan keramik peninggalan Dinasti Tang abad 9-10.

Peneliti BRIN memperkirakan ini klaster hunian, pertanian, dan tempat ibadah. Artinya masyarakat hidup berdampingan antar profesi dan keyakinan.

Candi Candisari Kalasan, dekat Klaten, abad ke-8 M diperkirakan adanya asrama biara Buddha. Para pendeta Buddha mengajar berdampingan dengan penganut Hindu/Siwa di Candi Prambanan yang tidak jauh sehingga semangat toleran sengaja dipilih untuk mewujudkan keluarga yang harmonis.

Dijelaskan bahwa ciri khas janan Mataram Kuno diantaranya adalah adanya 2 Dinasti berkuasa bersama yakni Sanjaya Hindu dan Sailendra Buddha

Candi dibangun berdampingan Hindu dan Buddha saling menghormati, dan Raja membiarkan rakyat memilih agamanya masing-masing.

Karena itu Klaten sampai sekarang masih dijuluki sebagai daerah dengan warisan toleransi. Candi Sojiwan dan Plaosan masih “menyuarakan harmonisasi”

Sejak abad 8-10, Klaten sudah menjadi laboratorium kerukunan, yakni lewat pernikahan lintas agama, pembangunan candi bersama, dan hidup berdampingan di perkampungan, masyarakat Mataram Kuno yang membuktikan beda keyakinan bukan penghalang untuk hidup rukun saling menolong sesama. ( Moch.Isnaeni)

  • Penulis: fkubklaten

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aksi Copot Foto Jokowi dari Ruang Kerja Sukiyat Bentuk Ekspresi Kekecewaan Pribadi

    Aksi Copot Foto Jokowi dari Ruang Kerja Sukiyat Bentuk Ekspresi Kekecewaan Pribadi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle fkubklaten
    • visibility 44
    • 0Komentar

    KLATEN – H. Sukiyat, pemilik bengkel Kiat Motor di ruang kerja di rumahnya Kradenan Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten. Sukiyat menyampaikan klarifikasi terkait aksi pencopotan foto-foto Presiden RI ke-7 Joko Widodo di rumah dan bengkel miliknya, Senin ( 8/6/2026 ) Menurut H. Sukiyat, tindakan tersebut merupakan ekspresi kekecewaan pribadi yang ia rasakan selama ini. Bahwa Joko […]

  • Syamsuddin Asyrofi :Peran Tokoh Agama Perkuat Harmoni Sosial di Masyarakat

    Syamsuddin Asyrofi :Peran Tokoh Agama Perkuat Harmoni Sosial di Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle fkubklaten
    • visibility 33
    • 0Komentar

    KLATEN – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten KH Syamsuddin Asyrofi mengatakan bahwa kerukunan umat beragama di Klaten hingga saat ini dinilai terjaga dengan baik. Kondisi tersebut tidak terlepas dari peran penting tokoh agama yang terus memberikan edukasi kepada masyarakat melalui dakwah/ dialog yang menyejukkan, mengedepankan akhlakul karimah, serta menghindari narasi […]

  • KH Hartoyo :Rakor MUI se Solo Raya Bahas Problematika Keumatan

    KH Hartoyo :Rakor MUI se Solo Raya Bahas Problematika Keumatan

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle fkubklaten
    • visibility 31
    • 0Komentar

    KLATEN — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Klaten, KH Hartoyo, mengatakan bahwa Rakor MUI se Solo Raya membahas problematika keumatan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, bermaslahat, dan berkah. Hal itu disampaikan Hartoyo saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Rapat Koordinasi MUI se Solo Raya di Aula Masjid Agung Al-Aqsha Klaten, Sabtu ( 6/12/2025 […]

  • FKUB Klaten Gelar Rapat Pleno Rutin

    FKUB Klaten Gelar Rapat Pleno Rutin

    • calendar_month Jumat, 28 Feb 2025
    • account_circle fkubklaten
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Klaten, 28 Februari 2025 Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten mengadakan Acara Rutin Pleno pengurus, yang diadakan tiap bulan dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Drs HSyamsuddin Asrofi,MM dan dihadiri oleh semua pengurus dengan agenda pembahasan program-program yang startegis jangka pendek maupun menengah. Kesempatan ini dengan pembahasan terkait ajuan dana hibah ke Pemerintah Daerah untuk […]

  • Inovasi Strategis: PKUB RT/RW di Klaten, Pertama di Indonesia Jadi Ikhtiar Merawat Kerukunan dari Akar Rumput

    Inovasi Strategis: PKUB RT/RW di Klaten, Pertama di Indonesia Jadi Ikhtiar Merawat Kerukunan dari Akar Rumput

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle fkubklaten
    • visibility 24
    • 0Komentar

    KLATEN – Pembentukan PKUB tingkat RT/RW se-Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten yang baru saja dikukuhkan Ketua FKUB Kabupaten Klaten KH Syamsuddin Asyrofi disebut sebagai inovasi baru dan strategis. Langkah ini jadi ikhtiar nyata merawat kerukunan di masyarakat akar rumput karena menyentuh langsung masyarakat paling bawah di tingkat RT/RW. Pengukuhan pengurus PKUB RT/RW desa se Kecamatan Juwiring […]

  • Angkatan Muda Haji (AMHI) Klaten Baksos bagikan Takjil Gratis

    Angkatan Muda Haji (AMHI) Klaten Baksos bagikan Takjil Gratis

    • calendar_month Jumat, 14 Mar 2025
    • account_circle fkubklaten
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Ketua AMHI Kabupaten Klaten ikut bagikan Takjil ke Pengendara pengguna jalan

expand_less