Cornelius Ronowijoyo : Cikal Bakal Kerukunan Ada di Candi Plaosan, Desa Bugisan Prambanan Klaten

KLATEN – Ketua Dewan Pembina Panitia Pekan Kerukunan Internasional, DR. Cornelius Ronowijoyo, PhD, menegaskan bahwa nilai-nilai kerukunan yang akan dibawa ke forum internasional berakar dari sejarah lokal di Candi Plaosan, Desa Bugisan, Prambanan, Klaten.
Menurutnya, Plaosan adalah bukti nyata bahwa kerukunan antarumat beragama telah hidup sejak berabad -avad yang lalu. Keberadaan kompleks candi Buddha dan Hindu yang berdampingan menjadi simbol toleransi yang relevan hingga saat ini.
“Cikal bakal kerukunan itu ada di sini, di Candi Plaosan. Pesan inilah yang ingin kami bawa dan perkuat dalam Pekan Kerukunan Internasional mendatang,” ujar DR. Cornelius saat menghadiri rangkaian Festival Candi Kembar.
Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada acara Festival Candi Kembar yang menjadi ajang penguatan dialog lintas agama dan budaya di Klaten, Sabtu ( 23/5/2026 ). Panitia berharap momentum di Klaten dapat menjadi inspirasi bagi upaya membangun kerujunan dan perdamaian di tingkat nasional maupun global.
Pekan Kerukunan Internasional dijadwalkan berlangsung di Manado pada 28 Oktober 2026, dengan mengangkat tema kerukunan sebagai modal utama perdamaian dunia.
Meskipun diguyur hujan deras Festival Candi Kembar di Desa Bugisan Prambanan Klaten tetap berlangsung. Festival Candi Kembar tersebut merupakan rangkaian dari agenda Kabupaten Klaten, Klaten International Cycling Festival yang berlangsung dari 17 sampai 24 Mei 2026 kegiatan menyongsong Pekan Kerukunan Internasional yang akan berlangsung akhir Oktober 2026 di Manado.
Kirab budaya diikuti delapan RW yang ada di Desa Bugisan Prambanan Klaten dengan star dari Komplek Candi Sewu dan berakhir di Komplek Candi Kembar atau Candi Pelaosan.
Para peserta saat kirab membawa gunungan hasil bumi. Selain itu juga menampilkan karya seni seperti tari-tarian dari berbagai daerah.
Pj Sekda Klaten Joko Purwanto kepada wartawan mengatakan kegiatan festival Candi Kembar merupakan upaya melestarikan seni dan budaya serta mengangkat kepariwisataan agar Klaten mendunia.
Salah satunya kolaborasi kegiatan festival Candi Kembar dengan Klaten International Cycling Festival yang diikuti 40 negara.
“Wisata Klaten harus mendunia. Salah satu strategi saat ini adalah kita bersama dengan festival sepeda internasional. Hadir saudara -saudara kita penggemar sepeda seluruh Indonesia. Bahkan komunitas sepeda internasional 40 negara juga hadir,” katanya. ( Moch.Isnaeni )



