Nilai Sejarah Candi Plaosan Jadi Inspirasi Merawat Kerukunan dalam Perbedaan Keyakinan

KLATEN – Nilai sejarah Candi Plaosan atau Candi Kembar di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten, dinilai dapat menginspirasi masyarakat untuk merawat kerukunan dalam perbedaan keyakinan.
Hal tersebut menguat menjelang puncak Festival Candi Kembar yang akan digelar Sabtu, 23 Mei 2026, di kawasan candi. Kompleks Candi Plaosan yang dibangun abad ke-9 merupakan bukti nyata hidup berdampingan antara umat Buddha dan Hindu pada masa Mataram Kuno.
Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, menyebut festival ini sebagai kreasi pentas budaya yang menguatkan kerukunan di masyarakat.
“Festival Candi Kembar di Desa Bugisan Prambanan Klaten ini merupakan kreasi pentas budaya menguatkan kerukunan di masyarakat,” ujar Ida Pangelingsir.
Menurutnya, warisan sejarah berupa candi yang berdiri berdampingan menjadi pengingat bahwa toleransi sudah mengakar di tanah Prambanan sejak lama. Nilai itu perlu dihidupkan kembali melalui kegiatan yang melibatkan warga, seniman, dan tokoh lintas agama.
Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Klaten turut mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan kerukunan di tingkat desa. Kehadiran perwakilan lintas agama diharapkan menjaga suasana tetap inklusif dan mencegah potensi gesekan.
Festival Candi Kembar tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga momentum evaluasi kerja kerukunan dan dorongan pembentukan Seksi Kerukunan Umat Beragama hingga tingkat RT/RW.
Panitia bersama FKUB Klaten saat ini tengah mematangkan koordinasi agar acara berjalan lancar dan melibatkan seluruh unsur masyarakat. ( Moch.Isnaeni )



