Artikel

Menggali Jejak Kerukunan dan Toleransi di Klaten Abad VIII – X Masa Mataram Kuno

Menggali Jejak Kerukunan dan Toleransi di Klaten Abad VIII – X Masa Mataram Kuno*

KLATEN — Kabupaten Klaten menjadi salah satu “jantung” peradaban Mataram Kuno sejak dulu kala. Di sinilah jejak toleransi Hindu- Buddha sudah terlihat jelas dengan jejak-jejak peninggalannya.

Ir.Wisnu Hendrata, MMR salah satu pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten menulis dalam bujunya Jejak Kerukunsn dan Toleransi di Klaten dari Jaman Mataram Kuno Avad VIII – X yang dibedah pada Rabu ( 5/8/2026 ) di Pendopo Pemerintah Kabupaten Klaten.

Acara tersebut dibuka bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo yang diwakili Staf Ahli Bupati Klaten Slamet , SH, M, Si.

Nara sumber lain yang membahas buku tersebut adalah Dr.Daud Aris Tanudirja, Dr.Ir. Cornelius D.Ronowidjojo, Ph.D. M.A dan Prof. Dr. Timbul Haryono, M,Sc

Menurut Daud Aris Tanudirja wilayah Klaten-Prambanan disebut “Siwa Plateau” karena di satu kawasan ada candi Hindu dan Buddha yang berdiri berdampingan.

“Candi Plaosan di Desa Bugisan Prambanan Klaten yang dibangun oleh Rakai Pikatan raja Hindu dari Dinasti Sanjaya sebagai hadiah untuk istrinya yakni Pramodhawardhani yang beragama Buddha” katanya.

Jadi antara suami dan istri berbeda agama, tapi saling mendukung membangun tempat ibadah untuk pasangannya terjadi pada saat itu.

Sedangkan Candi Sojiwan Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten yang merupakan Candi Buddha abad ke-9 M dibangun Raja Balitung dari Dinasti Mataram Kuno untuk menghormati neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beragama Buddha.

“Meski coraknya Buddha, di beberapa bagian ada kecenderungan nercorak Hindu. Ini jadi simbol “harmonisasi”.” katanya.

Dijelaskan bahwa keberadaan candi Hindu dan Buddha di satu kawasan menunjukkan nenek moyang sejak dulu telah hidup rukun, harmonis dan sangat toleran.

“Tahun 840 M terjadi pernikahan Pramodhawardhani dari Dinasti Sailendra beragama Buddha dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Sekalipun berbeda agama ternyata bisa hidup rukun, damai dan harmonis.” kata Daud Aris Tanudirja.

Dampaknya besar dari peristiwa tersebut adalah kerukunan antar umat beragama menjadi kebijakan negara, Rakai Pikatan tidak menyingkirkan agama Buddha. Justru mendukung pembangunan candi Buddha, sedang
Pramodhawardhani juga mendukung pembangunan candi Hindu, sehingga masa pemerintahan mereka 840-856 M melahirkan banyak candi megah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ).

“Ini bukti kalau di Mataram Kuno “raja dengan rakyat tidak harus beragama sama” dan sudah menjadi hal yang biasa.” pungkasnya.

Dukuh Kropakan, Desa Mranggen, Jatinom, Klaten diperkirakan perkampungan sejak abad 8-10 M. Ditemukan guci, gerabah, manik-manik, batu bata, dan keramik peninggalan Dinasti Tang abad 9-10.

Peneliti BRIN memperkirakan ini klaster hunian, pertanian, dan tempat ibadah. Artinya masyarakat hidup berdampingan antar profesi dan keyakinan.

Candi Candisari Kalasan, dekat Klaten, abad ke-8 M diperkirakan adanya asrama biara Buddha. Para pendeta Buddha mengajar berdampingan dengan penganut Hindu/Siwa di Candi Prambanan yang tidak jauh sehingga semangat toleran sengaja dipilih untuk mewujudkan keluarga yang harmonis.

Dijelaskan bahwa ciri khas janan Mataram Kuno diantaranya adalah adanya 2 Dinasti berkuasa bersama yakni Sanjaya Hindu dan Sailendra Buddha

Candi dibangun berdampingan Hindu dan Buddha saling menghormati, dan Raja membiarkan rakyat memilih agamanya masing-masing.

Karena itu Klaten sampai sekarang masih dijuluki sebagai daerah dengan warisan toleransi. Candi Sojiwan dan Plaosan masih “menyuarakan harmonisasi”

Sejak abad 8-10, Klaten sudah menjadi laboratorium kerukunan, yakni lewat pernikahan lintas agama, pembangunan candi bersama, dan hidup berdampingan di perkampungan, masyarakat Mataram Kuno yang membuktikan beda keyakinan bukan penghalang untuk hidup rukun saling menolong sesama. ( Moch.Isnaeni)

Related Articles

Back to top button