Bupati Hamenang : Cikal Bakal Kerukunan Ada di Klaten, Lihat Candi Sewu – Prambanan – Plosan

KLATEN – Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan bahwa cikal bakal kerukunan umat beragama sudah ada sejak ratusan tahun lalu di Bumi Klaten.
Buktinya ada di kompleks Candi Sewu dan Candi Prambanan yang berdampingan dalam satu kawasan, serta Candi Plosan atau Candi Kembar yang bercorak Hindu-Buddha di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten.
Pernyataan itu disampaikan Bupati Hamenang saat memberikan sambutan dan pengarahan pada acara pengukuhan pengurus Paguyuban Kerukunan Umat Beragama ( PKUB ) tingkat RT/RW Desa se Kecamatan Jiwiring Klaten di gedung pertemuan Desa Pundungan Juwiring Klaten, Kamis ( 18/6/2026 ).
“Candi Sewu itu Buddha, Prambanan itu Hindu. Tapi mereka satu komplek, saling berdampingan sejak abad 9. Itu bukan kebetulan. Di Bugisan ada Candi Plosan, satu kompleks tapi tetapi memiliki corak yang berbeda, ada unsur Hindu dan Buddha. Ini artinya leluhur Klaten sudah mempraktikkan hidup rukun beda keyakinan jauh sebelum istilah ‘toleransi’ ada. Jadi kalau ditanya ‘kerukunan itu dari mana?’, jawabannya: dari Klaten,” tegas Bupati Hamenang Wajar Ismoyo.
Menurutnya, 3 pelajaran dari candi untuk Klaten masa kini yang pertama berbeda tetapi satu kawasan, yakni adanya candi yang bercorak Hindu-Buddha tidak menjadikan masalah tetapi mereka hidup rukun sekalipun berbeda keyakinan.
“Justru mereka hidup saling menguatkan sehingga masyarakat Klaten sampai sekarang juga begitu, sekalipun ada perbedaan agama dan keyakinan tetapi masyarakat hidup rukun dalam satu desa, satu RT/RW” katanya.
Yang kedua kata Hamenang adanya saling menghormati hasil karya, yakni Candi Prambanan tidak merusak Candi Sewu, begitu juga sebaliknya tidak saling mengusik satu dengan yang lainnya.
“Ini berarti menghormati ruang ibadah orang lain itu warisan leluhur yang sudah tertanam lama di tanah air utamanya di Klaten” katanya.
Yang ketiga kata Hamenang ada warisan tanggung jawab dari nenek moyang dan para leluhur di Kabupaten Klaten ini.
“Makanya kalau leluhur kita bisa rukun mampu membangun candi megah, masa kita cucu-cicitnya kalah rukun untuk menjaga Klaten?” kata Hamenang.
Bupati mengajak jajaran FKUB, tokoh lintas agama, pemuda, dan tokoh masyarakat menjadikan situs candi sebagai “kelas hidup kerukunan”. Wisatawan yang datang ke Klaten bukan cuma melihat batu, tetapi mereka belajar toleransi dan kerukunan dari Klaten.
Acara Pengukuhan Pengurus PKUB tingkat RT/RW Desa se Kecamatan Juwiring untuk yang pertama kali di Indonesia ini dilakukan oleh ketua FKUB Kabupaten Klaten KH.Syamsuddin Asyrofi .
Syamsuddin Asyrofi menyampaikan bahwa terbentuknya pengurus PKUB tingkat RT/RW ini menjadi salah satu inovasi baru FKUB setelah sebelumnya FKUB Kabupaten Klaten bersama Pemerintah telah membentuk PKUB Kecamatan dan Desa/Kelurahan se Kabupaten Klaten beberapa waktu yang lalu.
Selama ini PKUB Kecamatan dan Desa/Kelurahan se Kabupaten Klaten telah menjadi Role model bagi FKUB Kabupaten/Kota dan Provinsi se Indonesia.
“Dengan inovasi tersebut FKUB Kabupaten Klaten telah berhasil 2 kali memperoleh penghargaan Harmony Award dari Kementerian Agama RI sebagai peringkat pertama menyisihkan 514 Kabupaten se Indonesia” kata Syamsuddin Asyrofi.
Camat Juwiring Nindyarini Budi Wardhani menyampsikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terbentuknya PKUB tingkat RT/RW Desa se Kecamatan Juwiring.
( Moch.Isnaeni )



