KH.Syamsuddin Asyrofi: Ibadah Kurban Momen Penting untuk Menguatkan Kerukunan Masyarakat

KLATEN – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten, KH. Syamsuddin Asyrofi, mengatakan bahwa ibadah kurban menjadi momen penting untuk menguatkan kerukunan di masyarakat.
Menurut beliau, proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban secara alami mempertemukan berbagai elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang. Hal ini menjadi ruang nyata untuk merawat kebersamaan dan saling peduli.
“Ibadah kurban bukan hanya ritual, tetapi juga sarana sosial. Ketika kita berbagi, kita mempererat tali persaudaraan. Di sinilah nilai kerukunan diuji dan dikuatkan,” ujarnya saat khutbah idul Adha di masjid Al-Mahfudz Ceper Klaten, Rabu ( 27/5/2026 ).
KH. Syamsuddin berharap semangat kurban dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga toleransi dan gotong royong terus hidup di tengah masyarakat Klaten.
Syamsuddin Asyrofi mengajak jemaah untuk memaknai Idul adha sebagai momentum mempererat kerukunan sosial dan membuktikan ketakwaan melalui ibadah kurban.
Ia menegaskan bahwa Idul Adha memiliki keagungan lebih besar dibandingkan Idul Fitri, meskipun di Indonesia euforia Idul Fitri sering kali lebih terasa karena tradisi mudik dan libur hari raya.
“Idul Adha adalah hari raya yang penuh dengan zikir, tahlil, tahmid, dan takbir yang dikumandangkan lebih lama. Bahkan, puasa dilarang pada hari ini dan hari-hari tasyriQ (11, 12, 13 Zulhijah) untuk menunjukkan betapa istimewanya momen ini,” katanya.
Syamsuddin menjelaskan bahwa kurban berasal dari kata yang berarti mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah kurban, sebagaimana perintah dalam Surah Al-Kautsar ayat 2, “Dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah), merupakan wujud ketaatan setelah menjalankan salat.
Hukum kurban sendiri adalah sunnah muakkad, sangat dianjurkan bagi yang mampu, bahkan boleh dilakukan dengan cara berhutang atau arisan kurban selama ada kepastian pembayaran.
Syamsuddin Asyrofi juga menyinggung kisah Nabi Ibrahim AS yang diuji dengan perintah mengorbankan anaknya, Ismail, sebagai bukti ketakwaan.
Dalam Surah Al-Haj ayat 37, Allah menegaskan bahwa bukan daging atau darah kurban yang sampai kepada-Nya, melainkan ketakwaan pelakunya.
“Kurban adalah ujian nyata, seperti yang dialami Nabi Ibrahim. Uang yang kita keluarkan untuk kurban, meskipun terasa berat, adalah bukti ketakwaan kita kepada Allah,” tambahnya.
Selain aspek spiritual, kurban juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Syamsuddin Asyrofi menyoroti tiga manfaat utama kurban dalam kehidupan bermasyarakat:
pertama, menciptakan empati dan solidaritas melalui pembagian daging kepada fakir miskin, tetangga, dan keluarga.
Kedua, mengurangi kesenjangan sosial dengan memberikan kesempatan bagi semua kalangan untuk menikmati daging, sekaligus meningkatkan ekonomi peternak dan petani pakan ternak.
Ketiga, mempererat silaturahmi melalui gotong-royong saat penyembelihan dan pembagian daging, yang memungkinkan interaksi antarwarga.
Dalam konteks modern, Syamsuddin mengajak jemaah untuk menjalankan ibadah kurban dengan memperhatikan kebersihan, ketertiban, dan manajemen sosial yang baik. Ia menekankan pentingnya transparansi dalam pembagian daging kurban untuk menghindari fitnah terhadap panitia, menjaga kebersihan lingkungan pasca-penyembelihan, serta menyalurkan daging ke daerah-daerah yang lebih membutuhkan.
Program seperti pengalengan daging kurban oleh Lazismu juga dianjurkan untuk memperluas manfaat, termasuk membantu daerah bencana dan mengatasi kekurangan gizi.
“Ibadah kurban bukan hanya soal ketakwaan, tetapi juga kerukunan sosial. Mari kita aktif berpartisipasi, berkontribusi, dan menjaga niat agar ibadah ini diterima Allah. Kurban hanya datang setahun sekali, jadi jangan tunda jika kita mampu,” tutup Budi, disambut antusiasme jemaah.”
Momentum Idul Adha menjadi penanda dua peristiwa atau selebrasi rutinan (annual celebration) umat Islam yang menjadi ciri khas dan unik, yakni pertama ibadah Qurban dan yang kedua adalah penyelenggaraan ibadah haji. Hal tersebutlah yang membuat mengapa Idul Adha juga banyak dikenal dengan istilah lebaran haji karena memang dalam pelaksanaannya bertepatan dengan momen ibadah haji di tanah suci.
Di balik makna dan ritual Idul Adha tersebut, tersimpan sebuah kisah agung yang menjadi dasar dan inspirasi pelaksanaan ibadah kurban. ( Moch.Isnaeni )



