Ketua MUI Klaten: Dakwah di Era Digital Harus Bijaksana, Bukan Keras dan Kasar
- account_circle fkubklaten
- calendar_month Minggu, 25 Okt 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KLATEN — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Klaten, *KH. Hartoyo*, mengatakan bahwa penyelenggaraan dakwah saat ini menghadapi banyak tantangan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, penyampaian dakwah hendaknya dilakukan dengan bijaksana atau _bil hikmah_, terutama di era digital.
Hal itu disampaikan KH. Hartoyo saat menjadi narasumber pada acara Workshop Digitalisasi Dakwah Wasathiyah di Gedung Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Minggu (25/10/2026).
Menurut KH. Hartoyo, tantangan dakwah di era digital bukan hanya pada kecepatan informasi, tetapi juga pada kualitas informasi itu sendiri. Masyarakat saat ini dibombardir hoaks, ujaran kebencian, konten pornografi, penipuan berkedok agama, hingga paham paham radikal yang dikemas menarik di media sosial.
“Kalau kita berdakwah dengan cara yang keras, kasar, dan saling menyalahkan, maka masyarakat justru akan lari dari dakwah. Dakwah di era digital ini harus _bil hikmah_, dengan hikmah, dengan cara yang lembut, santun, berilmu, dan bisa diterima akal sehat masyarakat,” ujar KH. Hartoyo.
Ia menegaskan, prinsip _bil hikmah_ bukan berarti melemahkan Islam, tetapi justru cara yang diajarkan langsung oleh Al-Qur’an. Dakwah harus disampaikan dengan argumen yang kuat, bahasa yang santun, dan teladan akhlak yang baik.
“Umat Islam Klaten harus menjadi contoh. Kita berdakwah dengan hati, bukan dengan emosi. Kita menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar. Itulah dakwah Wasathiyah, dakwah yang tengah, moderat, dan membawa rahmat bagi semua,” tegasnya.
KH. Hartoyo juga mengapresiasi Komisi Komunikasi dan Informasi MUI Kabupaten Klaten yang telah menginisiasi workshop digitalisasi dakwah bagi para pegiat dakwah kecamatan. Menurutnya, langkah ini sangat tepat agar para dai tidak gagap teknologi dan mampu memanfaatkan media digital untuk kebaikan.
“Kalau MUI tidak masuk ke dunia digital, maka ruang digital akan dikuasai oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab. Maka saya minta, ikutilah workshop ini dengan sungguh sungguh, dan jadilah dai digital yang mencerahkan,” pungkasnya.
Workshop ini diikuti oleh puluhan pegiat dakwah dari MUI Kabupaten Klaten dan bertujuan untuk membekali para dai dengan keterampilan membuat konten dakwah yang sejuk, edukatif, dan berbasis Islam Wasathiyah.
( *Moch.Isnaeni* )
- Penulis: fkubklaten